Mind Conspiracy

everything i hear on my mind

Enoch, Marya, Hera, Abdul, dan Lokra

Enoch berteriak! Meneteskan air kepedihan yang mengalir dari kedua matanya. Enoch hanyalah pria muda yang pantas menerima buruknya hidup dengan cara berpikir positif dan mengelus dada. Teriakan yang memekakan dari mulutnya hanya terlontar untuk Marya.

Marya tersenyum tanpa ekspresi. Duduk dengan anggun disebuah kursi taman hijau yang tak berujung, menikmati savana berbunga dengan hujan rupiah yang dia dambakan selama ini disekelilingnya. Melambaikan tangannya pada Lokra.

Hera bersembunyi di balik tirai dalam ruang. Sesekali mengintip pada kenyataan. Hati nurani yang dimilikinya terus berbisik mencelanya. Tusukan yang dia layangkan pada punggung Enoch menjadi penyebab semua itu. Seluruh tubuhnya yang berkeriput bergidik ketakutan.

Abdul duduk di kursi goyang. Menghisap cerutu, menyemburkan asap ke wajah tua Hera. Menangisi Marya tanpa teman. Kesendirian ini bukanlah hasrat. Serangan sepi dibangun kokoh dan menjulang tinggi oleh Marya dan Hera.

Lokra melebarkan kertas-kertas keangkuhan. Mengibas-ibaskannya di depan muka Abdul. Mengedipkan mata untuk keacuhan Abdul. Menengadahkan kepala untuk senyuman Hera. Menyeret Marya yang seluruh tubuhnhya sudah terhubung tali melingkar disetiap jari Lokra.

***
Tangan Enoch bercucuran darah, gemetar, dan menggenggam sebilah besi tajam. Melangkah pelan ke dalam gelap ruang. Hiasan tubuh yang tercabik dan terpotong-potong itu terus dipandanginya. Dia tak lagi mengelus dada untuk masalahnya. Dia ingin sebuah tindakan untuk semua prahara. Enoch menatap sebuah lemari tua yang berpintu penuh celah. Melucutkan gerakan. Siap menghantam dengan mata terbelak dan senyuman kosong.

Tubuh Marya kaku, tak ada daya dan spasi bagi gerakan. Kembang kempis perutnya diiringi oleh ketersendatan. Janin yang dikeluar-paksakan dari tubuhnya, tergeletak melantai di depan perutnya yang tersayat membentuk rongga. Lagi-lagi darah. Lagi-lagi merah. Marya sadar, api yang dinyalakannya terlalu besar. Harapan akan Marya kecil sudah menguap. Semua rupiah yang dipeluknya erat mengabu terbakar.

Pikiran Abdul terbang melayang terbawa badai. Lenyap putih lenyap hitam. Lenyap ingat lenyap lupa. Hilang senyum hilang tangis. Hilang emosi hilang ekspresi. Tertinggalah tubuh tua renta terbalut sebuah hujatan dan paradigma ketidakwajaran dalam ruang lingkup pandangan para mayoritas. Ini bukan yang Abdul mau, ini yang terbaik untuknya. Tidak ada darah. Tidak ada merah. Tapi terbentanglah warna-warni, mengkaburkan pola yang tertata dalam kepala.

Langkah Hera terugal-ugal. Seperti gerobak tua yang dipaksa berjalan cepat. Dipaksa oleh dosa. Ketakutan menggiring Hera untuk bersembunyi. Seperti debu-debu yang menggumpal dibalik tempat tidur. Menggumpal oleh kepecundangannya. Dibalik ruang sempit dan penuh celah dia mengintai. Mengintai pria muda yang sedang mengintainya. Pria muda yang meminta tumbal atas pengkhianatan, kekesalan, dan penghinaan. Akan ada darah disini.

Kepala Lokra tersimpan rapi di atas meja rias Miriam, disebelah hamburan kesepuluh jarinya yang saling menunjuk. Tak seperti lengan kanan , kaki kiri, dan kaki kanannya yang berantakan di lantai. Terlihat kurang indah. Untung lengan kirinya tersembunyi apik di dalam laci meja itu, jadi tidak menambah keberantakan yang ada. Tapi dimanakah badan Lokra? Tampaknya telah dibuang setelah semua jeroannya raib. Ada banyak darah kali ini.

  • 27 April 2011
  • 1